Copyright © CERITA INSPIRASI DAN MOTIVASI
Design by Dzignine

Donor

Putriku yang telah dewasa, Sara, dan aku merupakan sahabat baik. Dia tinggal bersama keluarganya di sebuah kota terdekat yang memungkinkan kami berdua untuk sering kali mengunjungi. Di waktu-waktu kami tidak saling berkunjung, kami saling menulis surat atau berbicara lewat telepon.

Ketika dia meneleponku, dia selalu mengatakan, “Hai, Mam, ini aku,” dan aku menjawab, “Hai, Aku, bagaimana keadaanmu hari ini?” Seringkali dia menandatangani suratnya hanya dengan “Aku”. Kadang-kadang aku memanggilnya “Aku” hanya untuk menggodanya.

Lalu tiba-tiba Saraku yang malang meninggal tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu,

akibat penyakit pendarahan otak. Tak perlu dikatakan, aku merasa hancur! Tidak ada penderitaan yang lebih besar bagi orangtua dibanding kehilangan seorang anak tercinta. Butuh iman yang kuat untuk tetap tabah.

Kami memutuskan untuk mendonorkan organ-organ tubuhnya sehingga paling tidak sesuatu yang bagus bisa datang dari situasi tragis. Sementara itu, aku mendengar berita dari Kelompok Penerima Organ yang memberitahuku ke mana saja organ-organ tubuhnya yang didonorkan. Tentu saja tidak disebutkan sebuah nama pun.

Sekitar setahun kemudian, aku menerima sebuah surat yang sangat indah dari seorang pemuda yang menerima pancreas dan ginjalnya. Hal ini menciptakan perbedaan besar dalam hidup pemuda itu.

Terpujilah Tuhan! Dan karena dia tidak bisa menyebutkan namanya sendiri, coba tebak bagaimana dia menandatangani suratnya: “Aku”!

Aku merasa sangat bahagia

Marry M. Jelinek